Sarasehan Prodi Sastra Jepang FIB UGM 2017

13 October 2017 | Akbar Rizqi
caption

Sarasehan Prodi Sasjep di Auditorium FIB UGM

Kamis, 12 Oktober 2017, Prodi Sastra Jepang menyelenggarakan pertemuan singkat bertajuk Sarasehan bersama dua alumni Sastra Jepang UGM yang telah sukses, yaitu Cuniati Soegiono atau akrab disapa Mbak Cucu dan Nur Astuty Wahidin atau akrab disapa Mbak Itut. Dengan dua latar belakang pekerjaan berbeda, Mbak Cucu sebagai interpreter di Astra Honda Motor dan Mbak Itut sebagai interpreter freelance, memberikan tips-tips dan membagikan pengalaman seputar dunia kerja yang mereka geluti.

Tepat pukul 13.00 WIB di Auditorium FIB UGM, acara dibuka oleh Desak Nyoman Risma Riyandewi, Sastra Jepang angkatan 2015, selaku pembawa acara. Drs. Tatang Hariri, MA, kepala prodi Sastra Jepang FIB UGM 2017, membuka acara tahunan ini dengan sambutan singkat mengenai dua alumni yang akan menjadi pembicara dalam Sarasehan tersebut.

            Acara ini dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi Sastra Jepang FIB UGM mulai dari tingkat satu hingga tingkat lima. Peserta terlihat serius menyimak “wejangan” dari dua alumni sukses tersebut. Mbak Cucu sebagai pembicara pertama mempresentasikan “Kiat-Kiat Menjadi Interpreter/Translator Profesional”. Mbak Cucu sekilas menggambarkan dunia kerja dan perbedaan interpreter dengan translator, serta perbedaan dua jenis interpreter: simultan dan konservatif. Tidak hanya itu, beliau juga memberikan poin-poin penting jika ingin bekerja di Perusahaan Jepang.

Pesentasi kemudian dilanjutkan oleh Mbak Itut, mantan Ketua Himaje (Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang) wanita pertama. Berbeda dengan Mbak Cucu yang bekerja sebagai pegawai tetap perusahaan, Mbak Itut memilih bekerja sebagai interpreter lepas. Dalam presentasinya, Mbak Itut memaparkan pengalaman dan tips-tips sebelum memutuskan menjadi interpreter lepas.

“Harus mau repot dan capek agar peluang kerja terus mengalir pada kita.” Demikian pesan Mbak Itut saat mempresentasikan “Kiat-Kiat Bekerja secara Profesional sebagai Interpreter Lepas”.

Sarasehan yang berlangsung hingga pukul 15.00 WIB itu akan menjadi bekal yang sangat berguna bagi mahasiswa-mahasiswi Sastra Jepang FIB UGM yang ingin bekerja sebagai interpreter. Mereka terlihat antusias mengangkat tangan untuk bertanya kepada dua pembicara. Tidak lupa, Mbak Cucu juga membawakan “oleh-oleh” dari Astra Honda Motor bagi teman-teman yang bertanya pada sesi tanya jawab.

Kirim Komentar

Berita Terbaru