
Departemen Bahasa dan Sastra bersama Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang (BKJ), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Ceramah Pakar Kejepangan bertajuk “Indonesia dan Jepang dalam Perspektif Sejarah, Sastra, dan Buddhisme: Interaksi, Transmisi, dan Transformasi” pada Rabu, 4 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring di Ruang 709 Gedung Soegondo FIB UGM serta daring melalui Zoom Meeting, dan diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta peserta dari berbagai perguruan tinggi.


Acara ini menghadirkan dua akademisi dari Hiroshima University, yaitu Prof. Tsunehiko Sugiki dan Associate Prof. Dr. Naoko Ito, serta Akbar Rizqi Dhea Habibi, S.S., M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM yang juga merupakan alumnus Program Magister Hiroshima University. Kegiatan dimoderatori oleh Dr. Stedi Wardoyo, M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM. Untuk mendukung kelancaran penyampaian materi, kegiatan ini juga menghadirkan penerjemah Hieronimus Jerryo Febrinawan Ardikusuma, mahasiswa BKJ yang telah lulus JLPT N1 serta penerima beasiswa MEXT Government to Government (G to G) di Hiroshima University.
Dalam paparannya, Prof. Tsunehiko Sugiki membahas ikonografi dewa Heruka dalam tradisi Buddhisme Tantra. Ia menjelaskan bagaimana representasi Heruka dengan 17 wajah dan 76 lengan dalam ikonografi Buddha tidak hanya menggambarkan kekuatan simbolis suatu dewa, tetapi juga mencerminkan perkembangan tradisi teks dan praktik keagamaan yang menyebar dari India ke berbagai wilayah Asia, termasuk Nepal, Tibet, dan Asia Tenggara. Melalui kajian ikonografi serta kerja lapangan, berbagai representasi dewa tersebut dapat ditelusuri dalam artefak dan karya seni Buddha di berbagai wilayah.
Selanjutnya, Associate Prof. Dr. Naoko Ito memaparkan keterkaitan antara Indonesia dan Jepang dalam konteks penyebaran Buddhisme Tantra. Ia menjelaskan bahwa struktur Candi Borobudur, patung-patung Buddha tantra, serta berbagai perlengkapan ritual seperti vajra dan ghanta menunjukkan kesamaan dengan tradisi Buddhisme yang berkembang di wilayah Asia Timur. Kesamaan struktur mandala dan artefak keagamaan tersebut menjadi indikasi bahwa jalur transmisi keagamaan dari India menuju Jepang turut melibatkan kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pada sesi berikutnya, Akbar Rizqi Dhea Habibi, S.S., M.A. mengulas mengenai hubungan historis antara Kerajaan Ryukyu dan Jawa pada abad ke-15 hingga ke-17. Ia menjelaskan bahwa Kerajaan Ryukyu pada masa tersebut merupakan pusat perdagangan maritim yang aktif menjalin hubungan dengan berbagai wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Hubungan tersebut juga melibatkan Kerajaan Majapahit di Jawa yang dikenal sebagai kekuatan regional penting. Bukti hubungan ini tidak hanya tercatat dalam sumber sejarah, tetapi juga terlihat melalui temuan artefak seperti keris di Okinawa, serta pengaruh budaya yang tercermin dalam karya sastra dan seni tradisional.
Kegiatan ini juga diwarnai dengan sesi diskusi interaktif antara narasumber dan peserta. Berbagai pertanyaan diajukan oleh mahasiswa dan akademisi dari beberapa perguruan tinggi, yang membahas lebih lanjut mengenai ikonografi Buddha, hubungan budaya antara Nusantara dan Jepang, hingga perkembangan kajian sejarah dan sastra dalam studi kejepangan.
Melalui kegiatan ini, Departemen Bahasa dan Sastra serta Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM berharap dapat memperluas wawasan akademik mahasiswa sekaligus memperkuat diskusi lintas disiplin mengenai hubungan historis, budaya, dan keagamaan antara Indonesia dan Jepang.