Sambutan Ketua Program Studi
Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada bukanlah program studi Jepang pertama di Indonesia maupun yang pertama di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Namun, banyak lulusan SMA di Indonesia yang berharap dapat melanjutkan studi di Yogyakarta, khususnya di Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Gadjah Mada.
Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang didirikan pada tanggal 30 Maret 1989 dengan nama awal Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang. Pada masa perintisannya, program studi ini didirikan oleh empat pendiri, terdiri atas satu dosen Indonesia dan tiga dosen dari Jepang. Kehadiran program studi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memperluas wawasan masyarakat Indonesia mengenai bahasa dan budaya asing, khususnya dari Jepang. Indonesia dan Jepang sendiri memiliki hubungan bilateral yang erat, baik dalam bidang ekonomi maupun kerja sama antar negaranya.
Kami mempersiapkan mahasiswa tidak hanya melalui penguasaan keterampilan berbahasa, tetapi juga melalui pemahaman yang mendalam tentang budaya Jepang. Mahasiswa dapat memilih satu dari empat peminatan, yaitu peminatan sastra, linguistik, budaya, dan sejarah. Selain itu, kami juga membekali mahasiswa dengan kesiapan kerja melalui mata kuliah seperti Bahasa Jepang Profesi, Bahasa Jepang untuk Korespondensi dan Presentasi, serta Penerjemahan Bahasa Jepang–Indonesia.
Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang selalu terbuka bagi lulusan SMA/SMK/sederajat dari seluruh Indonesia untuk bergabung, belajar, dan berkarya bersama kami.
Sejarah
Program Sarjana Bahasa dan Kebudayaan Jepang didirikan pada 30 Maret 1989 dengan jumlah mahasiswa angkatan pertama sebanyak 25 orang. Pada awal pendiriannya, program ini diawali oleh empat dosen perintis, yaitu tiga dosen dari Jepang dan satu dosen dari Indonesia yaitu Eman Suherman, Ishida Norito, Moroya Shunko, dan Takasawa Naomi. Pendirian program ini secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 39/DIKTI/Kep/1989, yang meresmikan berdirinya Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang di Universitas Gadjah Mada.
Eman Suherman telah bekerja sebagai dosen Bahasa Jepang Umum dan Sejarah Asia Timur di Program Studi Sejarah sejak tahun 1987. Bersama Ishida Norito, selama dua tahun mereka mempersiapkan kurikulum, materi ajar, dan kebutuhan akademik lainnya untuk pembukaan Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang.
Setelah terbitnya Surat Keputusan pendirian program studi tersebut, pada bulan Mei–Juni Japan Foundation (JF) memberikan dukungan berupa penugasan dua dosen penutur asli, yaitu Moroya Shunko dan Takasawa Naomi. Selanjutnya, para dosen kembali melakukan persiapan menjelang penerimaan mahasiswa baru pada bulan Juli–Agustus. Kurikulum yang dikembangkan pada masa itu masih digunakan hingga kini, yakni sistem Dounyuu-Fukushuu, yang membagi proses pengajaran menjadi dua bagian yaitu pengenalan (introduction) dan pengulangan (review).
Pada tahun 1991–1992, program studi mulai menghadirkan dosen dari Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia. Banyak pula dosen yang mengajar saat ini merupakan lulusan dari program studi yang sama.
Berdasarkan Keputusan Rektor UGM No. 1718/UN1.P/SK/HUKOR/2017, 16 November 2017, program studi ini resmi berganti nama menjadi Program Studi Sastra Jepang. Terakhir, melalui Lampiran I Keputusan Rektor No. 1286/UN1.P/KPT/HUKOR/2022 tertanggal 28 November 2022, program studi ini kembali ditetapkan dengan nama resmi Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang.